Komisi Pelayanan Pemuda dan Mahasiswa (KPPM) Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Dawarblandong

Peringatan Hari AIDS Sedunia

Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember diperingati untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia yang disebabkan oleh penyebaran virus HIV.
Konsep ini digagas pada Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia mengenai Program-program untuk Pencegahan AIDS pada tahun 1988. Sejak saat itu, ia mulai diperingati oleh pihak pemerintah, organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia.

Sejarah Hari AIDS Sedunia
Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di Organisasi Kesehatan Sedunia di Geneva, Swiss. Bunn dan Netter menyampaikan ide mereka kepada Dr. Jonathan Mann, Direktur Pgoram AIDS Global (kini dikenal sebagai UNAIDS). Dr. Mann menyukai konsepnya, menyetujuinya, dan sepakat dengan rekomendasi bahwa peringatan pertama Hari AIDS Sedunia akan diselenggarakan pada 1 Desember 1988.

Bunn menyarankan tanggal 1 Desember untuk memastikan liputan oleh media berita barat, sesuatu yang diyakininya sangat penting untuk keberhasilan Hari AIDS Sedunia. Ia merasa bahwa karena 1988 adalah tahun pemilihan umum di AS, penerbitan media akan kelelahan dengan liputan pasca-pemilu mereka dan bersemangat untuk mencari cerita baru untuk mereka liput. Bunn dan Netter merasa bahwa 1 Desember cukup lama setelah pemilu dan cukup dekat dengan libur Natal sehingga, pada dasarnya, tanggal itu adalah tanggal mati dalam kalender berita dan dengan demikian waktu yang tepat untuk Hari AIDS Sedunia.

Bunn, yang sebelumnya bekerja sebagai reporter yang meliput epidemi ini untuk PIX-TV di San Francisco, bersama-sama dengan produsennya, Nansy Saslow, juga memikirkan dan memulai "AIDS Lifeline" ("Tali Nyawa AIDS") - sebuah kampanye penyadaran masyarakat dan pendidikan kesehatan yang disindikasikan ke berbagai stasiun TV di AS. "AIDS Lifeline" memperoleh Penghargaan Peabody, sebuah Emmy lokal, dan Emmy Nasional pertama yang pernah diberikan kepada sebuah stasiun lokal di AS.

Pada 18 Juni 1986, sebuah proyek "AIDS Lifeline" memperoleh penghargaan "Presidential Citation for Private Sector Initiatives", yang diserahkan oleh Presiden Ronald Reagan. Bunn kemudian diminta oleh Dr. Mann, atas nama pemerintah AS, untuk mengambil cuti dua tahun dari tugas-tugas pelaporannya untuk bergabung dengan Dr. Mann (seorang epidemolog untuk Pusat Pengendalian Penyakit) dan membantu untuk menciptakan Program AIDS Global. Bunn menerimanya dan diangkat sebagai Petugas Informasi Umum pertama untuk Pgoram AIDS Global. Bersama-sama dengan Netter, ia menciptakan, merancang, dan mengimplementasikan peringatan Hari AIDS Sednia pertama - kini inisiatif kesadaran dan pencegahan penyakit yang paling lama berlangsung dalam jenisnya dalam sejarah kesehatan masyarakat.)

Program Bersama PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) mulai bekerja pada 1996, dan mengambil alih perencanaan dan promosi Hari AIDS Sedunia. Bukannya memusatkan perhatian pada satu hari saja, UNAIDS menciptakan Kampanye AIDS Sedunia pada 1997 untuk melakukan komunikasi, pencegahan dan pendidikan sepanjang tahun.

Pada dua tahun pertama, tema Hari AIDS Sedunia dipusatkan pada anak-anak dan orang muda. Tema-tema ini dikiritk tajam saat itu karena mengabaikan kenyataan bahwa orang dari usia berapapun dapat terinfeksi HIV dan menderita AIDS. Tetapi tema ini mengarahkan perhatian kepada epidemi HIV/AIDS, menolong mengangkat stigma sekitar penyakit ini, dan membantu meningkatkan pengakuan akan masalahnya sebagai sebuah penyakit keluarga. Pada 2004, Kampanye AIDS Sedunia menjadi organisasi independen.(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_AIDS_Sedunia)

Untuk memperingati hari tersebut, pemuda-pemuda dari GKJW Sukorame berinisiatif membuat suatu acara yang sangat menarik bagi para pemuda.. yaitu GKJW Sound Shine ini acara ini dibuat untuk memperingati hari HIV/AIDS sedunia, yang sebelumnya dari pemuda sendiri belum pernah membuat acara yang semacam ini. Acara ini berupa Parade Band, yang banyak menarik perhatian anak muda. Acara semacam ini memang penting, selain menunjukkan kreativitas para pemuda terutama di bidang Musik, acara ini juga mensosialisasikan bahaya penyakit ini, cara penularan, dan cara pencegahannya. dan diharapkan agar virus HIV dapat dicegah penyebarannya...


Beberapa Band yang mendukung acara tersebut berasal dari beberapa gereja diantaranya:
GKJW Dawarblandong, GKJW Luwung, GKJW Mojowarno, GKJW Mojo Agung, ada juga dari GPDI tapi lupa GPDI Jemaat mana...heheh...dan lain2...yang gx bisa disebut di sini.
Semoga sesuai dengan yang disampaikan panitia bahwa acara seperti ini akan diadakan tiap tahun. Kami tunggu acara ini tahun depan...Semoga bisa lebih baik dari Tahun ini dengan peserta yang lebih banyak, sehingga lebih banyak pula pemuda yang peduli dengan penyakit ini dan tidak menjauhi(mengucilkan) orang yang terkena penyakit ini tapi memberi dukungan pada penderita....
GBU All..

Tentang HIV/AIDS

Sejarah
AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pneumosistis (sekarang masih diklasifikasikan sebagai PCP tetapi diketahui disebabkan oleh Pneumocystis jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.
Dua spesies HIV yang diketahui menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di dunia, sementara HIV-2 sulit dimasukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat. Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primata. Asal HIV-1 berasal dari simpanse Pan troglodytes troglodytes yang ditemukan di Kamerun selatan. HIV-2 berasal dari Sooty Mangabey (Cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, Gabon, dan Kamerun.
Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat kontak dengan primata lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan daging. Teori yang lebih kontroversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV AIDS, menyatakan bahwa epidemik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski terhadap vaksin polio. Namun demikian, komunitas ilmiah umumnya berpendapat bahwa skenario tersebut tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.

Apa itu HIV/AIDS?
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah Virus yang menyebabkan rusaknya/melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia.
HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ibonukleat) yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.
Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu penyakit yang ditimbulkan sebagai dampak berkembangbiaknya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) didalam tubuh manusia. virus ini menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh. Hilangnya atau berkurangnya daya tahan tubuh membuat si penderita mudah sekali terjangkit berbagai macam penyakit termasuk penyakit ringan sekalipun. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.
HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain.

Gejala yang tampak
Adapun tanda dan gejala yang tampak pada penderita penyakit AIDS diantaranya adalah seperti dibawah ini :

1. Saluran pernafasan. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia). Tidak jarang diagnosa pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.

2. Saluran Pencernaan. Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami diarhea yang kronik.

3. Berat badan tubuh. Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaan yang mengakibatkan diarhea kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.

4. System Persyarafan. Terjadinya gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah dan Impoten.

5. System Integument (Jaringan kulit). Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau carar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.

6. Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita. Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah 'pelvic inflammatory disease (PID)' dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal).

Tahap HIV menjadi AIDS
Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS:
1. Tahap 1: Periode Jendela
- HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah
- Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
- Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
- Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan

2. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
- HIV berkembang biak dalam tubuh
- Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
- Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV
-Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek))

3. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
- Sistem kekebalan tubuh semakin turun
- Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
- Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

4. Tahap 4: AIDS
- Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
- berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

Penanganan dan Pengobatan Penyakit AIDS
Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.
Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.
Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS
http://www.infopenyakit.com/2007/12/penyakit-aids.html
http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/adakah_obat_untuk_hivaids_saat_ini/
http://aids-ina.org/modules.php?name=FAQ&myfaq=yes&id_cat=1&categories=HIV-AIDS

Musik Gereja: Sejarah dan Dinamikanya

Abstraction:
Christian Music is music that has been written to express either personal or a communal belief regarding Christian life and faith. Common themes of Christian music include praise, worship and lamentation, and it forms vary widely accros the world.

Musik dan Manusia
Musik tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dalam peradapan tertua seperti Yunani atau Mesir telah merekam adanya seni yang disebut musik. Bangsa-bangsa kuno itu menggunakan musik untuk berbagai kesempatan, diantaranya adalah untuk pesta-pesta bangsawan dan juga dalam ritual keagamaan. Musik yang digunakan dalam ritual keagamaan berkembang pesat dalam kehidupan bangsa kuno, bahkan orang Yunani menyebut bahwa musik berasal dari kemurahan dewa pada manusia.

Dalam era modern inipun, kita mengakui bahwa musik tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Dapat dikatakan bahwa musik memenuhi kebutuhan manusia, baik secara sosial, budaya dan juga religiositasnya. Dewasa ini para ahli telah menyimpulkan bahwa musik jenis tertentu dapat mengoptimalkan perkembangan sel otak pada janin dalam kandungan dan meningkatkan kecerdasan bayi. Musik kini juga telah menjadi industri raksasa yang menggiurkan. Kita bisa lihat betapa banyak artis-artis negri ini yang meskipun musikalitasnya tak terlalu tinggi menyebut diri sebagai penyanyi, atau lihat saja betapa gemerlapnya panggung-panggung talentshow yang menjadi ajang pintas untuk berkibar di industri musik.

Uniknya, efek dari musik tidak hanya dirasakan oleh manusia saja, melainkan juga oleh makhluk hidup yang lainnya. Di Belanda terdapat dua macam daging sapi yang harganya berbeda jauh. Sepintas sih dagingnya sama, beratnya sama, sama-sama segar dan sama-sama sapi Belanda! Tapi, harganya… langit-bumi. Apa yang membedakan..?? ternyata itu karena semasa hidupnya daging sapi tadi bahagia. Ya…bahagia! Karena mendiang sapi itu diperbolehkan berjalan-jalan di padang, makan rumput segar dan mendengar musik tiap hari. Di bagian lain negeri Belanda, terdapat pula tanaman anggrek. Anggrek-anggrek itu ditanam dalam rumah kaca sehingga mendapat suhu dan panas yang sesuai. Tanaman anggrek disana angat cantik dan segar, ternyata salah satu rahasia perawatan bunganya adalah musik… Ya… musik diputar sehari dua kali dalam rumah kaca itu, dan bunga anggrekpun semakin subur.

Demikian kita tahu bahwa dari melanya, musik mewarnai hidup manusia juga hewan dan tanaman. Musik adalah sarana pengungkapan emosi manusia yang menyangkut rasa; dan ide yang menyangkut pikir. Dengan ini dapat dicapai sebuah perimbangan antara sisi efektif dan kognitif manusia. Musik yang tumbuh dan berkembang seiring dengan peradaban manusia tidak bisa tidak dipengaruhi oleh konteks (letak geografis, budaya, sosiologi, nilai-nilai relijius) dimana seni musik itu dicipta.

Musik dan Ibadah Kristiani
Sebagai sebuah komunitas kehidupan yang berpusat pada Kristus, Gereja juga melakukan seni. Kebanyakan seni itu dimanifestasikan dalam ibadah. Ibadah adalah salah satu cara jemaat untuk berhubungan dengan Sang Khalik secara dramatis-simbolis, kemudian terwujudlah liturgi. Dalam tulisannya, Sumardiyono menyatakan bahwa Ibadah di GKJW identik dengan pisowanan . Jadi dapat disimpulkan bahwa liturgi bukan sekedar susunan acara atau urut-urutan lagu dalam ibadah, melainkan sebuah bentuk dialog antara manusia dengan Khaliknya. Musik sebagai salah satu mata liturgi menyatu dengan keseluruhan liturgi ibadah dan juga kondisi batin jemaat. Dalam sebuah ibadah, musik berfungsi melayani -bukan sebagai entertament. Tidak ada yang ditonton dan menonton dalam sebuah ibadah, karena pelayan mimbar, pelayan musik dan warga jemaat sama-sama tunduk dihadapan Tuhan, sama-sama memiliki kerinduan untuk bertemu Tuhan.
Penggunaan musik ibadah telah dimilai sejak jaman Alkitab, ada baiknya jika kita membahas dengan singkat dalam bagian ini.
a. Musik dalam Perjanjian Lama
Dalam perjanjian lama kita bisa melihat bahwa musik vokal dan instrumental sangat penting dalam ibadah orang Yahudi. Kata ‘musik’ pertama-tama disebutkan dalam Kej 4:21, dimana Yubal disebutkan sebagai “bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling”. Saat Daud menjadi raja atas Israel, ia menempatkan kemah suci di Kota Yerusalem. Sesuai dengan tradisi Perjanjian Lama, suku Lewi ditunjuk menjadi pelayan di Bait Allah. Suku Lewi harus mengatur pembagian tugas agar ibadah-ibadah dapat berjalan dengan lancar, dan salah satu kelompok pelayan ibadat adalah kelompok musik ( I Taw 6:31-32; I Taw 23:5;25:1-8). Yosephus (seorang sejarawan Yahudi) mencatat bahwa ada 200 ribu peniup terompet dan 200 ribu penyanyi berjubah putih yang dilatih untuk ikut serta dalam ibadah. Nampaknya kelompok ini bukan kelompok sembarangan, namun kelompok yang serius dalam menjalankan tugasnya ( I Taw 25:7, “…mereka sekalian adalah ahli seni”). Puji-pujian yang dinaikkan oleh kelompok ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan ibadah ( I Taw 6:31). Beberapa bagian Perjanjian Lama ini menyiratkan bahwa puji-pujian harus disiapkan dengan baik, bukan hanya masalah teknis seperti kualitas vokal dan penampilan namun juga suasana hati parapelayan musiknya. Dalam hal ini kita juga dapat melihat sebuah kontekstualisasi dari penggunaan musik dan nyanyian. Alat musik dan nyanyian yang tadinya dikenal sebagai pelengkap pesta, foya-foya dan pemujaan berhala oleh bangsa lain kemudian ditransformasi bagi kemuliaan ALLAH oleh bangsa Israel.
b. Musik dalam Perjanjian Baru – Era Klasik
Sulit untuk menemukan bagian Perjanjian Baru yang eksplisit menyebut musik atau nyanyian. Namun ada bagian yang menggambarkan bahwa dalam Perjanjian Barupun ada musik dan nyanyian. Misalnya dalam Injil: Nyanyian Maria (magnificat), Nyanyian Zakharia (benediktus), Nyanyian Simeon (Nunc Dimitti) dan Tuhan Yesuspun menyanyi (Matius 26:30). Sedang dalam bagian surat-surat antara lain: I Kor 14:15-17; Efesus 5:19 dan Kolose 3:16. Dari keterangan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa paling tidak sudah dikenal 3 macam nyanyian dalam Perjanjian Baru, yaitu: Mazmur (berisi lagu-lagu dari Kitab Mazmur), Kidung Pujian (syair lagu yang berisi tentang pengajaran dan pengakuan iman) dan Nyanyian Rohani (berisi syair-syair pendek yang merupakan ungkapan hati yang khas, exp: haleluya, amin).
Pada jaman itu kegiatan bermusik Jemaat mula-mula dilarang keras, nyanyian di Sinagoge dianggap meresahkan keadaan politik dan keagamaan di Roma. Namun, setelah Kaisar Konstantin berkuasa di Roma, ia memberikan kebebasan beribadah kepada orang-orang Kristen. Pada kesempatan inilah Jemaat mula-mula mengembangkan pola ibadah, liturgi dan nyanyian. Dan kemudian kita mengenaldua tokoh besar yang mengembangkan liturgi dan hymn , Ambrosius (333-397) dan Gregorius Agung (590-604). Nyanyian yang diciptakan oleh kedua tokoh ini sangat mempengaruhi perkembangan musik gerejawi barat dalam jaman-jaman setelahnya. Jaman ini belum ada sistem notasi (harga not, birama, irama, tempo, dll), namun penyampaian makna relijius lebih diutamakan. Bahkan saat itu tidak ada pemanfaatan alat musik dalam ibadah, baru menjelang tahun 1000 nyanyian diterjemahkan dalam sistem notasi balok dan kemudian terus berkembang dari abad XIII-XV. Dari era ini sampai abad pertengahan, alat musik khas Romawi (organ) tidak diperkenankan masuk dalam ibadah Kristiani. Hal ini disebabkan dari perilaku Kaisar Nero yang seringkali membantai orang Kristen dengan iringan organ. Tarian dursila dan pesta pora juga diiringi organ. Pendeknya organ ditolak karena identik dengan dunia sekuler. Namun kini kita tahu bersama bahwa organ menjadi alat musik utama dalam nyanyian Jemaat. Dari perkembangan ini kita bisa melihat bahwa musik gereja senantiasa berjalan dinamis. Pada dasarnya bukan alat atau jenis musiknya yang jahat atau tidak pantas masuk ke dalam gereja, melainkan bagaimana manusianya menggunakan musik itu.
Demikianlah jemaat mula-mula telah hidup dalam pola musik yang kontemporer dan kontekstual.

Dari bahasan di atas, kita dapat belajar mengenai keterbukaan komunitas beriman di Alkitab dalam mentransformasikan musik gereja yang kontekstual. Dari jaman Daud yang dalam mentransformasi seruling dan kecapi, dari alat musik yang biasa digunakan untuk pesta dan penyembahan berhala menjadi alat musik yang memuliakan Allah. Kemudian perkembangan nyanyian gereja yang awalnya hanya Mazmur, berkembang menjadi Hymn. Komunitas beriman ini bersedia menerima dan mengadopsi budaya yang ada menjadi bagian yang integral dalam ibadah. Sekali lagi, tidak ada alat atau aliran musik yang jahat atau jelek pada dirinya sendiri, melainkan bagaimana manusia menggunakan musik itu.

Musik Gereja Kontekstual

Dalam perkembangan musik gereja, ada ketegangan antara tuntutan keaslian dan tuntutan kontekstual. Sebagian orang berpendapat bahwa lagu-lagu hymn (seperti yang banyak terdapat dalam KJ dan KPK) sedapat mungkin dinyanyikan sesuai dengan maksud penciptanya. Namun sebagian orang lain memahami dari hakekat/inti pesan lagu. Dengan inti pesan yang sama, sebuah lagu dapat dinyanyikan dalam situasi yang baru. Kedua pandangan ini menggambarkan betapa majemuknya cara warga jemaat menyikapi warna musik gereja, Sumardiyono mengutip:

Penghakiman dalam Gereja tak kalah menarik ketika jemaat atau pemandu pujian atau pengiring ibadah dianggap salah membaca notasi. Pementingan segi kognitif yang mencakup teori nyanyian menjadi pengagungan terhadap Kidung Jemaat. Hymn tidaklah seperti Alkitab yang perlu kanonisasi dan ditetapkan seperti Alkitab yang tidak boeh diubah, dikurangi atau ditambah. Nyanyian dalam jemaat haruslah terus bergerak seiring dengan perkembangan jaman dalam konteksnya sehingga terjadi kontekstualisasi liturgi dan nyanyian… Sebuah karya selalu diciptakan dalam konteks… Sehingga nyanyianpun kental dengan nuansa ‘budaya’ dimana ia berada.

Hal ini menunjukkan bahwa memang penting bernyanyi sesuai dengan maksud dan konteks penciptanya, tapi hal ini tidak berarti bahwa kita mengkultuskan budaya barat abad XIII-XV, padahal kini kita hidup dalam abad XXI yang memiliki konteks dan pergumulan yang khas. Sebuah lagu yang telah menjalani proses kontekstualisasi, akan lebih berarti bagi jemaat daripada lagu terkenal yang tak dapat dimengerti pola musik dan isi lagunya.

Sebagai pemuda GKJW yang memiliki kompleksitas rasa musikalitas tinggi dan beranekaragam, tidak ada salahnya jika setiap kita berusaha untuk menghayati iman dengan cara menggali lagu-lagu hymn dengan suasana kekinian. Sama seperti Daud yang tidak akan marah saat Ambrosius atau Gregorius mengubah Mazmur untuk menciptakan lagu baru. Setiap orang percaya (utamanya generasi muda) memiliki kesempatan untuk mengekspresikan imannya, dan itu bukan hal yang salah. Memang perlu ada batasan-batasan bagi generasi muda untuk mengekspresikan iman melalui lagu, yaitu pemaknaan dan penghayatan lagu. Dengan tidak mengesampingkan teori musik (harga not, birama, tempo, irama dan musical sign), pemaknaan terhadap konteks dan isi lagu. Contoh KJ 53 (Tuhan Allah tlah Berfirman) adalah lagu tradisional Israel yang cocok dinyanyikan dengan iringan musik “padang pasir”. Namun KJ 454 (Indahnya Saat yang Teduh) tidak pantas diiringi dengan musik bertempo cepat atau musik rock.
Tidak ada aliran musik yang lebih benar, lebih rohani atau lebih ngristeni, semua jenis musik akan menjadi indah di mata Tuhan jika kita menaikkannya bukan untuk kemuliaan diri sendiri, namun hanya bagi Allah. Pelayan musik menjadi sangat penting karena jemaat perlu ditolong untuk bisa mendalami bagian dialognya dengan Allah.
Selamat bermusik, selamat berdialog dengan Allah… (Rhe)

Sumber: Pembekalan Musik Gerejawi KPPMD Surabaya Barat
GKJW Bongsorejo, 07-08 Agustus 2010